Posted by: media surviva | 11 May 2009

Dinar Penolong Nelayan

Dinar dan Dirham sebagai sarana lindung nilai telah memberikan banyak manfaat bagi para pemegangnya. Nelayan di pesisir pulau Jawa telah membuktikan manfaatnya

Bulan Desember – Februari, dikenal oleh nelayan sebagai musim baratan, yaitu musim angin barat yang menimbulkan ombak besar, sementara ikan-ikan sulit diperoleh karena bersembunyi di dasar laut agar tidak terseret arus. Kondisi ini sangat membahayakan dan merugikan nelayan. Tak berlebihan bila Pak Candra begitu gembira dan bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena dua tahun yang lalu dia sempat membeli 1 dinar emas seharga Rp 850.000. Kini di musim paceklik, dinar tersebut menolongnya di saat ‘bokek’ sehingga dia dapat melaut kembali tanpa harus berhutang, menjelang datangnya musim timur.

Ketika saya sedang ke kampung nelayan Cilincing, untuk mengecek hasil pemasukan WC Umum milik saya, tiba-tiba Pak Candra menghadang saya. Dia ingin menanyakan harga dinar terkini. Kebetulan saya membawa koran Republika terbaru, maka saya tunjukan saja harga dinar yang ada di situ meski itu bukan harga up to date. “Jadi kalo harga dinar sekarang berapa, Yo?” Tanya Pak Candra. “Saya sms dulu ke Wakala Induk, pak”
Sambil menunggu jawaban Sms, kami duduk di warung Karlan. Tak lama kemudian muncul juga Sms yang ditunggu, raut wajah Pak Candra begitu sumringah melihat angka Rp 1.400.000 sekian. “Kalo dijual berapa potongannya, Yo?” “Sesuai maklumat 6%, pak” “Setuju!” Sergah Pak Candra. “Saya-kan beli cuma 850 ribu”. Kemudian dia menceriterakan bagaimana perlakuan Toko Emas di Pasar Koja yang memotong ‘bebek angsa’ nilai gelang dan kalung istrinya ketika dijual kembali, potongannya 12%!! Itupun harus ngotot dengan enci toko. Sehingga pembicaraan kami menarik perhatian nelayan yang sedang ngopi, terutama Mas Karlan si-pemilik warung.

Mas Karlan adalah tukang las yang sedang mengerjakan orderan dari Pak Candra untuk membuat dua unit sirip kemudi perahu seharga Rp 1.600.000. Singkat cerita, pak Candra dan mas Karlan bersepakat untuk melakukan transaksi dengan menggunakan dinar emas plus sedikit rupiah. Semoga Allah memberkahi perniagaan mereka. Sebagai catatan: ongkos pembuatan dua sirip perahu berikut bahannya dua tahun yang lalu Rp 900.000, kini Rp 1.600.000 setara dengan inflasi uang kertas terhadap 1 dinar.

Laporan: Sufyan al Jawi, Wakala al-Faqi Cilincing Jakarta Utara, Selasa, 10 Feb 2009

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: