Posted by: media surviva | 16 April 2009

Transportasi Jakarta

Dalam acara save our nation tentang persoalan di Jakarta, salah satu yang dibahas adalah masalah transportasi di Jakarta, Gubernur DKI Fauzi Bowo menyatakan bahwa jumlah kendaraan roda dua adalah 3.8juta, jumlah kendaraan roda empat adalah 2.3juta (6% kendaraan umum, sisanya kendaraan pribadi). Perkembangan jumlah kendaraan sekitar 11% per tahun sedangkan luas jalan hanya bertambah 1% per tahun.

Jumlah yang disampaikan tsb sebenarnya sama dengan data pada tahun 2003 yaitu jumlah yang disampaikan menurut pdat.co.id. (btw, pertambahan kendaraannya tidak dihitung ya…)

So…, sampai kapan kemacetan akan tersolusikan?

(pdat.co.id) .13 Maret 2006. Sementara itu jarak 14,6 km antara Kalideres dan kawasan Jalan Gajah Mada yang dulu dapat ditempuh dalam 29,5 menit, tahun 2000 harus ditempuh selama 51,7 menit atau meningkat 75%. Semakin lama waktu tempuh antara beberapa kawasan di Jakarta semakin meningkat terus menerus seiring dengan peningkatan volume kendaraan baru di jalanan (contohnya tahun 2005 pertumbuhan mobil baru mencapai sekitar 530.000 unit secara nasional).

Jumlah kendaraan di Jakarta sampai tahun 2003 mencapai 6.506.244 unit. Dari jumlah itu 1.464.626 di antaranya merupakan jenis mobil berpenumpang, 449.169 mobil beban (truk), 315.559 bus, dan 3.276.890 sepeda motor. Pertambahan paling fantastis terjadi pada jenis kendaraan sepeda motor yang pertumbuhannya mencapai ratusan ribu kendaraan pada tahun-tahun terakhir ini (tahun 2001 sepeda motor bertambah 333.510 unit, tahun 2002 bertambah 223.896 unit, tahun 2003 bertambah 365.811 unit)

Jumlah kendaraan pribadi yang lebih banyak dibanding kendaraan umum memperparah keruwetan transportasi di Jakarta. Perbandingan jumlah kendaraan pribadi dan kendaraan umum adalah 98% kendaraan pribadi dan 2% kendaraan umum. Padahal jumlah orang yang diangkut 2% kendaraan umum lebih banyak dari pada jumlah orang yang diangkut oleh 98% kendaraan pribadi. Dari total 17 juta orang yang melakukan perjalanan setiap hari, kendaraan pribadi hanya mengangkut sekitar 49,7% penumpang. Sedangkan 2% kendaraan umum harus mengangkut sekitar 50,3% penumpang.

Tingginya angka perjalanan di Jakarta membuat ruas-ruas jalan tertentu mendapat beban yang terlampau berat, bahkan di atas normal. Penelitian di 34 titik jalan arteri di Jakarta yang dilakukan Departemen Perhubungan RI pada tahun 2000 menunjukkan ada 32 titik (94%) ruas jalan arteri di Jakarta yang melebihi kapasitas. Artinya, tak ada jalan arteri di Jakarta yang bebas dari macet.

Pada jam sibuk pagi dan sore, lalu lintas di jalan-jalan utama Kota Jakarta hanya bergerak 12 km/jam. Hujan deras akan langsung melumpuhkan urat nadi lalu lintas kota. Dampaknya fantastis: kerugian sosial yang diderita masyarakat lebih dari 17,2 triliun rupiah per tahun akibat pemborosan nilai waktu dan biaya operasi kendaraan (terutama bahan bakar). Belum lagi emisi gas buang diperkirakan sekitar 25.000 ton per tahun. Dampak pada tahap selanjutnya adalah menurunnya produktivitas ekonomi kota (bahkan negara) dan merosotnya kualitas hidup warga kota.

Penelitian yang pernah dilakukan Japan International Corporation Agency (JICA) dan The Institute for Transportaion and Development Policy (ITDP) menunjukkan bahwa jika tidak ada pembenahan sistem transportasi umum, maka lalu lintas Jakarta akan mati pada tahun 2014. Perkiraan kematian lalu lintas Jakarta pada tahun 2014 itu didasarkan pada pertumbuhan kendaraan di Jakarta yang rata-rata per tahun mencapai 11% sedangkan pertumbuhan panjang jalan tak mencapai 1%. Tercatat, setiap hari ada 138 pengajuan STNK baru yang berarti di setiap harinya Jakarta membutuhkan penambahan jalan sepanjang 800 meter.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah merancang pola transportasi makro (PTM) untuk menghindari kematian lalu lintas Jakarta pada tahun 2014. Pola itu bakal memadukan empat sistem transportasi umum yang banyak dipakai di kota metropolitan dunia: bus cepat di jalur khusus (busway), kereta ringan dengan rel tunggal (monorel), jaringan mass rapid transit (MRT), dan jaringan angkutan air. Sistem terpadu ditargetkan selesai 2010 di mana diharapkan akan tercipta lalu lintas tertib terkendali, polusi udara berkurang, tingkat kecelakaan menurun, perubahan budaya menuju masyarakat disiplin dan kegiatan tepat waktu.

Sayangnya visi strategis itu terkadang masih berbenturan dengan kebijakan taktis yang kontradiktif hingga menyebabkan kebijakan transportasi kota cenderung tidak konsisten. Contohnya adalah rencana penambahan ruas tol dalam kota. Kebijakan seperti itu sebenarnya bertabrakan dengan visi pembangunan jalur busway yang bertujuan untuk mengurangi jumlah pemakai kendaraan pribadi.***

Siapa suruh datang Jakarta….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: