Posted by: media surviva | 20 April 2009

Sedih Melihat yang Mubazir…

Siapa yang paling berbahagia saat pesta pernikahan berlangsung ? Bisa jadi kedua mempelai yang menunggu detik-detik memadu kasih. Para tamu yang hadir dalam pesta tersebut tak luput terjangkiti aura kebahagiaan, itu nampak dari senyumnya, candanya, dan keceriaannya yang tak hentinya sepanjang mereka berada ditempat pesta. Dan satu lagi, bagi mereka yang jarang-jarang menikmati makanan bergizi plus, inilah saatnya perbaikan gizi walau bermodal uang sekadarnya didalam amplop yang tertutup rapat.
 
Apa benar-benar tidak ada yang bersedih di pesta itu ? Semula saya mengira yang paling bersedih hanya tukang pembawa piring kotor yang pernah saya ketahui hanya mendapat upah sepuluh sampai dua puluh ribu rupiah plus sepiring makan gratis untuk ratusan piring yang ia angkat. Sepuluh ribu rupiah yang diterima setelah semua tamu pulang, sungguh tak cukup mengeringkan peluhnya.
Setelah makan saya kemudian mencoba berjalan keliling rumah hajatan , aku terkejut mendapati 2 ( dua ) orang Ibu-ibu yang sangat bersedih di pesta itu. Mereka memang tak terlihat dari tempat pesta, juga tak mengenakan pakaian. Mereka tersembunyi dibalik terpal yang menghalangi aktivitas mereka di belakang rumah si empunya pesta, mereka adalah para pencuci piring bekas makan para tamu terhormat diruang pesta.
 
Kesedihan mereka bukan lantaran mendapat bayaran yang tak jauh berbeda dengan pembawa piring kotor. Mereka juga tidak sedih hanya karena harus belakangan mendapat jatah makan, itu sudah mereka sadari sejak awal mengambil peran sebagai pencuci piring, bukan pula kecewa karena tak sempat memberikan doa selamat untuk pasangan pengantin yang berbahagia, meski apa yang mereka kerjakan mungkin sebenarnya sangat cukup bernilai.
 
Air mata mereka keluar setiap kali memandangi nasi dan lauk yang harus terbuang teramat banyak atau makanan lain yang tak habis disantap para tamu. Tak tertahankan sedih mereka saat membayangkan tumpukan makanan sisa itu dan memasukkannya dalam karung untuk kemudian singgah di tempat sampah, sementara anak-anak mereka di rumah sering harus menahan lapar hingga terlelap.
 
Andai para tamu itu tak mengambil makanan melebihi batas kemampuannya menyantap, andai mereka yang berpakaian bagus di pesta itu tidak menuruti nafsunya untuk mengambil semua yang tersedia ,   padahal tak semua bisa masuk dalam perut mereka, mungkin mereka tidak berpikir kalau seharusnya makan secukupnya saja , seandainya pula mereka mengerti buruknya berbuat mubazir , mungkin akan ada sisa makanan untuk anak-anak di panti asuhan yatim dan piatu yang tak jauh dari tempat pesta itu.
 
Kemudian muncul pertanyaan .. haruskah kita juga berbuat seperti itu … Mubazir ????


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: