Posted by: media surviva | 23 April 2009

Inisiasi Menyusu Dini

MESKI tertinggal belasan tahun dari negara maju, beberapa tahun terakhir ini Indonesia gencar mempromosikan Inisiasi Menyusu Dini (IMD).  Menurut Dr Utami Roesli, SpA, MBA, IBCLC, pakar ASI sekaligus Kepala Bagian Sentra Laktasi RS Carolus Jakarta, IMD berarti meletakkan atau membiarkan bayi di dada ibunya segera setelah lahir, minimal satu jam, agar bayi mencari puting ibunya dan menyusu.

Bayi yang baru lahir memang bisa menyusu sendiri, tidak perlu disusui ibunya. Ia punya naluri kuat untuk mencari puting susu ibunya, asal kesempatan menyusu itu diberikan segera setelah lahir. Artinya, kesempatan ini diberikan sebelum bayi dibersihkan, ditimbang, dan sebagainya. IMD, imbuh Utami, bisa dilakukan pada bayi yang lahir normal maupun lewat operasi caesar asalkan kondisi tubuhnya stabil. Artinya, bayi tidak berindikasi harus dirawat di ICU.

“Bayi dengan berat 1.600 gram pun tidak apa-apa melakukan IMD asal kondisinya stabil,” ujar Utami dalam obrolan santai Dukungan untuk Ibu Menyusui, yang diadakan World Vision di Mal Senayan City, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Setelah lahir, lanjutnya, segera keringkan tubuh bayi (kecuali kedua tangannya), tapi jangan dibersihkan, lalu letakkan di dada ibunya untuk melakukan IMD.

Awalnya, ketika diletakkan di dada ibunya, bayi akan diam saja.”Waktunya bisa sampai 30 menit. Ini masa di mana bayi menenangkan diri, memulihkan diri setelah mengalami perbedaan lingkungan.
Sebelumnya ia berada di dalam rahim, sekarang ia di dunia luar,” ujar Utami.

Setelah itu, bayi akan mencium tangannya yang masih menyisakan bau makanannya saat ia masih di dalam rahim. Berdasarkan penciuman inilah, bayi akan bergerak mencari puting ibunya. Setelah mengeluarkan air
liur, bayi akan merangkak naik dengan cara menekankan kakinya tepat di atas rahim ibunya.

“Cara ini berguna untuk menghentikan perdarahan di rahim ibu,” kata Utami. Lalu, bayi akan mulai menjilati kulit ibunya. Ketika itulah, bakteri baik yang ada di kulit ibu akan tertelan oleh bayi dan bakteri ini yang akan menjaga kekebalan tubuhnya. Seberapa banyak bayi menjilat tergantung dari kebutuhan tubuh bayi akan bakteri tersebut.

Setelah lima langkah ini, umumnya bayi akan menemukan sendiri puting ibunya. Utami menambahkan, meski bayi sudah bisa menyusu sebelum genap satu jam di atas dada ibunya, biarkan saja ia di sana sampai waktu itu terlampaui. Ia mengatakan, tak perlu khawatir bayi akan kedinginan selama itu.

“Sebab, dada ibu yang baru melahirkan suhunya 2 derajat Celcius lebih tinggi dibanding dada ibu yang tidak melahirkan. Jadi, bayi tetap hangat. Kalau bayi merasa kepanasan, suhu dada ibu akan otomatis turun 1 derajat Celcius. Itulah keajaiban Tuhan,” imbuh Utami.

Suami  bisa membantu Bagaimana bila setelah satu jam bayi masih tetap kesulitan menemukan puting ibunya? “Ayahnya bisa membantu mengarahkan bayi ke puting ibunya. Tapi bukan langsung menyodorkan puting ibunya ke bayi, lho. Cukup dipandu saja. Keberadaan ayah di situ juga bisa mengawasi bayi agar tidak jatuh dari dada ibunya. Karena itu, keterlibatan ayah dalam IMD juga penting.”

Bagaimana IMD bisa dilakukan pada bayi yang lahir secara caesar? Menurut Utami, langkahnya tetap sama, yaitu langsung dikeringkan setelah lahir dan diletakkan di dada ibunya. Sedangkan proses menjahit luka bekas operasi tetap dilakukan seperti biasa. Kalaupun ibu perlu dipindahkan ke ruang lain sebelum IMD selesai, biarkan bayi tetap pada posisinya, yaitu menempel di dada ibunya.

Uniknya, IMD bisa dilakukan sambil sang ibu berbaring Sehingga tidak perlu menunggu untuk bisa duduk atau miring lebih dulu. Bagi sang ibu sendiri, IMD juga memiliki manfaat besar. Selain sentuhan antara kulit bayi dan ibunya yang menimbulkan kedekatan serta perasaan hangat bagi keduanya, ibu melahirkan yang melakukan IMD lebih jarang menemui kesukaran dalam menyusui. Perasaan sang ibu juga lebih tenang, rileks, dan lebih mencintai bayinya.

Sayangnya, belum semua pihak medis menyediakan layanan IMD atau bersedia mengabulkan permintaan ibu hamil untuk melakukan hal ini. Oleh karena itu, Utami menyarankan agar jauh hari sebelum melahirkan, bahkan sebelum hamil, para ibu mulai hunting dokter, rumah sakit, atau bidan yang mau melakukan IMD.

“Kalau mereka bersedia, pegang janjinya untuk tidak memisahkan Anda dan bayi segera setelah ia lahir. Sebab, tidak dipisahkan dari bayi adalah hak Anda. Kalau mereka tidak mau, lebih baik cari dokter atau tempat bersalin lain yang bersedia,” saran Utami.

Ia memang giat mempromosikan IMD lantaran, menurutnya, langkah ini memiliki manfaat besar bagi bayi sekaligus ibu melahirkan.  Besarnya manfaat bagi sang ibu dan bayi yang dilahirkan membuat IMD amat disarankan Utami. “Ini sebetulnya kodrat bayi ketika lahir, tapi sering kita lupakan. Padahal, ini merupakan cara refleks bayi untuk minum ASI. Bayi hewan memang bisa mati bila kesulitan menemukan puting ibunya, tapi bayi manusia tidak,” Utami menjelaskan.

Apalagi, IMD termasuk satu dari tiga standar emas pemberian makan pada anak. Dua standar emas yang lain adalah pemberian ASI eksklusif sampai usia bayi mencapai enam bulan, dan pemberian makanan tambahan yang
mendukung ASI sejak bayi berusia enam bulan sampai dua tahun, sambil sang ibu terus memberikan ASI.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: