Posted by: media surviva | 6 May 2009

H.Purdi E. Chandra, SE. Meninggalkan Pendidikan Demi Bisnis

Purdi E. Candra lahir di Lampung 9 September 1959. Secara “tak resmi”, purdi sudah mulai berbisnis sejak ia masih duduk di bangku SMP di Lampung. Bisnis pertama yang ia lakukan ketika itu adalah beternak ayam dan bebek. Ia melakukannya dari mulai membesarkan ayam dan bebek tersebut hingga kemudian menjual telurnya ke pasar.

Bisnis “resminya” sendiri ia mulai pada 10 Maret 1982, yakni ketika ia bersama teman-temannya mendirikan Lembaga Bimbingan Test Primagama. Waktu itu, Purdi masih tercatat sebagai mahasiswa di empat fakultas dari 2 perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Namun, karena merasa tidak mendapatkan apa-apa, ia nekad meninggalkkan dunia pendidikan untuk kemudian menggeluti dunia bisnis.

Dengan jatuh bangun, Purdi menjalankan roda bisnis di Primagama. Dari semula hanya 1 outlet dengan dua murid, Primagama sedikit demi sedikit berkembang. Kini murid lembaga tersebut terhitung berjumlah lebih dari 1000 orang per tahun dengan ratusan outlet yang tersebar di banyak kota di Indonesia. Karena perkembangan itu, Primagama akhirnya diukukuhkan sebagai lelmbaga bimbingan belajar terbesar di Indonesia oleh MURI (Musium Rekor Indonesia).

Purdi E. Candra adalah seorang entrepreneur. Selain memulai usahanya dari nol, dia juga bukan tipe pengusaha yang berpatron pada pejabat tertentu (non bussines patronage), sebagaimana layaknya pengusaha-pengusaha yang ada pada zaman Orde Baru. Bisnisnya di Primagama Group, benar-benar dimulai pada saat dirinya merasa gagal sebagai mahasiswa, yang tentunya tidak mempunyai apa-apa dan tidak mempunyai siapa-siapa. Oleh karena itu tidak berlebihan bila Purdi disebut sebagai pengusaha yang otonom.

Kini, usaha Purdi berkembang pesat. Primagama yang pada awalnya hanya dikenal sebagai Lembaga Bimbingan Belajar, kini sudah merambah ke berbagai bidang. Primagama kini menjadi sebuah holding company yang membawahi lebih dari 20 anak perusahaan yang tersebar di berbagai provinsi.

Di tengah kemajuan usahanya, jiwa entrepreneur Purdi tetap terjaga, bahkan obsesi bisnisnya kini berjalan seiring dengan obsesi sosialnya untuk menciptakan entrepreneur-entrepreneur baru, menciptakan lapangan kerja baru bagi jutaan pengangguran di Indonesia.

Salah satu obsesi sosialnya direalisasikan melaluli tulisan-tulisannya di berbagai media massa. Gaya tulisan Purdi yang ringan, santai dan berbasis pada pengalaman dirinya benar-benar menjadi kiat bagi calon pengusaha untuk memulai berbisnis. Lebih dari itu, gaya tulisannya selalu segar dan dinamis, mampu menjadi motivator bagi pengusaha-pengusaha untuk tetap bersemangat mengembangkan bisnisnya, meski di masa krisis.
Tulisan-tulisan pendek Purdi E. Chandra, sebagian besar dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat, Harian Bernas, Jawa Pos, Radar Djogja, The Jakarta Post, Tabloid Peluang dan Majalah Swa, selama kurun waktu 3 tahun terakhir. Purdi sepertinya ingin berbagi pengalaman dengan para pembaca, tentang bagaimana kiat-kiat dirinya mengembangkan bisnis dari nol hingga memiliki aset puluhan miliar rupiah.
Mengenai bakat bisnisnya, Purdi mengaku banyak belajar dari ibunya. Sementara untuk masalah kepemimpinan dan organisasi, sang ayah lah yang banyak memberi bimbingan dan arahan.

Selain bergerak di bidang bimbingan belajar (perubahan dari bimbingan tes), kini Primagama yang sudah menjadi holding company, melakukan ekspansi ke bidang-bidang lain. Beberapa bidang yang kini menjadi anak perusahaan Primagama Group antara lain :

  1. Pendidikan Formal: AMIKOM (Akademi Informatika dan Komputer), STIE IEU (Sekolah Tinggi Ekonomi IEU), STIE ABI (Sekolah Tinggi Ekonomi ABI), AMA (Akademi Management Administrasi) Yogyakarta, SMU Pembangungan, TK dan Play Group KREATIF PRIMAGAMA.
  2. endidikan Non Formal: Lembaga Pendidikan, IMKI PRIMA (Kursus Management dan Komputer), LBA INTERLINGUA (Kursus Bahasa Asing), PLC (Prima Language Centre), Gladi Insan Mandiri (Pelaltihan Management), Entrepreneur University, Visirupa (Lembaga Pengembangan Bakat Anak)
  3. Perdagangan Umum : PT. PRIMADIA (Desain Grafis), BMT (Baitul Mall Wat Tamwil) Rizki Mulya, Restoran Sari Raja, PT. Global Prima Realty (Properti), BAYANG PRIMA Tour dan Travel, Denatour, Palapa Jaya, Mataram Surya Visi (SWA FM), EMPUGRIYA (Furniture Interior), Primagama News Network, Biro Perjalanan Haji, dll.

Walaupun kesibukannya sebagai entrepreneur sangat tinggi, namun jiwa organisatories Purdi tetap disalurkan di berbagai organisasi. Tercatat ayah 2 putra ini pernah menjabat sebagai Ketua Himpungan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) cabang Yogyakarta, Pengurus Kadinda DIY, pernah mengikuti Kongres ke-16 PAPE (Pan pasific Association of Private School Education). Kerjasama Asosiasi Penyelenggara Pendidikan luar Sekolah se-Asia Pasifik (1994). Purdi pernah mewakili Kadin DIY ke Kadin Jerman (SIHK) di Hagen, Jerman. Purdi juga diundang sebagai tamu kehormatan pada peringatan HUT RI ke-50 di Istana Negara Jakarta. Selain itu, Purdi saat ini juga tercatat sebagai anggota MPR RI dari Utusan Daerah DIY hingga 2004 mendatang.

Purdi juga sering menjadi pembicara seminar-seminar tentang kewirausahaan.
Ketika bisnis negeri ini masih dikuasai konglomerat, orang-orang seperti Purdi E. Chandra dan “raja-raja cash” lainnya di Indonesia sungguh tidak ada apa-apanya. Keberadaan orang-orang seperti itu seakan menjadi pelengkap saja agar bangunan perekonomian nasional tampak ideal: ada pengusaha besar, pengusaha menengah dan kecil. Ajaibnya, ketika sang lokomotif (baca : pengusaha besar) ambruk karena krisis, gerbong-gerbong yang “ditarik” ternyata lancar-lancar saja jalannya. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang melesat.

Jika merunut nama “raja-raja cash” di Indonesia tersebut, sebagian besar memulai bisnisnya dari daerah, kemudian baru merambah Jakarta. Namun sebenarnya mereka lah yang pantas dijuluki pengusaha sejati. Mereka pandai memilih bidang bisnis masa depan. Jenis usahanya, mungkin, bukan sesuatu yang luar biasa, namun ternyata barang/jasa yang dihasilkan diminati pasar dan benar-benar menjadi kebutuhan orang banyak.

Hal yang patut direnungkan, jumlah pengusaha yang patut diteladani seperti itu masih terlalu kecil jumlahnya, bila dibandingkan dengan populasi pengusaha di Indonesia. ***(Winarno)


Responses

  1. Setahuku yang pendidikan formal, AMIKOM sudah bukan grup nya purdi lagi, banyak orang AMIKOM yang mangkel sama purdi, katanya pak purdi ngelola perguruan tinggi koq mirip kursus? Tapi btw kalau masalah properti, salut dah buat si om satu itu

    • terima kasih atas updatenya…🙂

  2. […] H.Purdi E. Chandra, SE. Meninggalkan Pendidikan Demi Bisnis « Apa …6 Mei 2009 … Dengan jatuh bangun, Purdi menjalankan roda bisnis di Primagama. Dari semula hanya 1 outlet dengan dua murid, Primagama sedikit demi sedikit … […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: