Posted by: media surviva | 13 May 2009

Etika Ekonomi Pasar (yang memporakporandakan)

Tesis kebudayaan dan peradaban berikutnya saya dapatkan dari Prof. Emil Salim (ekonom senior terbaik yang dipunyai negeri ini). Ia seolah hendak mengiyakan keresahan-keresahan Stiglitz atau Amartya Sen.
Pikirannya ia “mainkan” melintasi beberapa mazhab ekonomi. Namun, ia sangat terasa beranjak dari ekonomi klasik dan mengakirinya dengan kritik kepada ekonomi neo-liberalisme pasar.

Prof. Emil Salim memulai dengan tesis KRISIS ETIKA EKONOMI di Indonesia. Setiap jiwa warga Indonesia yang dididik di negeri ini untuk mempelajari ilmu ekonomi, meng-amini satu-satunya doktrin yang seolah-olah itulah DOKTRIN TUNGGAL EKONOMI yang ada di dalam jagad ilmu Ekonomi kita. Doktrin tersebut dikatakan oleh Prof. Emil Salim sebagai “ETIKA EKONOMI PASAR”. Dalam etika tersebut diyakini bahwa perilaku setiap jiwa yang hidup ini selalu diorientasikan kepada upaya-upaya rasional untuk MEMAKSIMISASI MANFAAT apapun yang ada di hadapan mereka. Setiap peluang, dilihat sebagai manfaat yang harus di-utilisasi secara maksimal.Apa kesalahan dari etika ini terhadap peradaban bangsa Indonesia hari ini?

  1. Bila ETIKA EKONOMI PASAR (perilaku memaksimisasi manfaat) itu memasuki wilayah POLITIK, maka hasilnya adalah pandangan bahwa KEKUASAAN ADALAH PELUANG EKONOMI untuk DIMANFAATKAN semaksimal
    mungkin. Resultan dari pandangan ini, maka POWER IS COMMERCIALIZED (kekuasaan diperdagangkan)…fakta inilah yang hari-hari ini kita lihat sejak PILKADA, PILEG, hingga PILPRES nanti…akankah bangsa Indonesia terus memelihara salah cara-pandang seperti ini? Hanya bangsa Indonesia yang bisa menjawabnya….

  2. Bila ETIKA EKONOMI PASAR (perilaku memaksimisasi manfaat) itu memasuki wilayah EKOLOGI, maka ENVIRONMENT IS COMMERCIALIZED dan NATURAL-RESOURCES mengalami proses CAPITALIZED (Sumberdaya Alam/SDA dipandang sbg obyek eksploitasi manusia semata-mata dan barang dagangan yang dijual-jual dengan harga murah seolah tanpa memiliki nilai-nilai “Illahiah/sunatullah” lainnya). Hasilnya, Indonesia
    mengalami kehancuran SDA dan lingkungan yang sangat akut sekaligus kronis tak tertolongkan. Pertanyaannya: akankah bangsa Indonesia meneruskan tradisi etikal seperti ini? Hanya bangsa Indonesia yang
    bisa menjawabnya….

  3. Bila ETIKA EKONOMI PASAR (perilaku maksimisasi manfaat) itu memasuki wilayah SCIENCE & TECHNOLOGY serta PENDIDIKAN, maka hasilnya pun sama IPTEK dan PENDIDIKAN yang DIKAPITALISASI dan
    DIPERDAGANGKAN….( catatan saya: oleh karena itu muncullah UU Badan Hukum Pendidikan – UU BHP yang kontroversial itu dalam hal ini).
    Hasilnya, pendidikan makin elitis dan mahal. Pertanyaannya: akankah Indonesia meneruskan tradisi etikal semacam ini? Hanya bangsa Indonesia yang bisa menjawabnya….

Demikianlah, akar dari KRISIS PERADABAN bangsa Indonesia terletak pada (KRISIS) ETIKA EKONOMI PASAR yang dipeliharanya. Pertanyaan dari Prof. Emil Salim saat itu adalah: bagaimana caranya bangsa ini melepaskan
(detached) dari etika yang seperti itu? Pertanyaan ini hampir pasti tidak dapat dijawab secara memuaskan, bahkan oleh Prof. Habibie sekalipun pada waktu diskusi itu….ini tantangan dunia sains dan akademik untuk menjawabnya…

diposting di facebook oleh Arya Hadi Dharmawan
Dosen Ekologi Politik dan Teori Sosial Hijau – Pascasarjana IPB


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: