Posted by: media surviva | 13 May 2009

Kecerdasan Tanpa Budaya

Lecture dari Prof. BJ Habibie yang menghabiskan waktu hampir dua jam dan memukau para guru besar lain adalah pengajuan tesisnya dari hasil diskusi panjang dengan seorang guru besar dari Chatolische Universitaet
Switzerland. Ia adalah Prof. Kuhn yang menulis buku “Spueren die Religion” (jejak-jejak agama).

Intinya, ditanyakan oleh Prof. Habibie:
mengapa bangsa-bangsa di dunia (termasuk Indonesia) mengalami stagnasi peradaban, meskipun proses pendidikan digalakkan dengan dukungan dana yang luar biasa? Kata Habibie, bangsa-bangsa di dunia saat ini
mengalami kecerdasan luar biasa karena proses PENDIDIKAN semata, namun bukan karena proses PEMBUDAYAAN.

Prof. Habibie mengatakan pendidikan hanya mengasah KECERDASAN otak. Ada hal yang kurang di dalam proses itu, yakni pengasahan budaya melalui proses yg disebutnya sebagai PEMBUDAYAAN.

Sementara pembudayaan yang (sangat tidak mendapat tempat dan perhatian dari pemerintah kita) sebenarnya hendak mengasah aspek VERNUENFT (KEARIFAN) pada jiwa kita semua, agar manusia menjadi vernuenftig
(arif-bijaksana) dan bukan hanya cerdas semata-mata. Inilah yang tidak berlangsung di negeri ini. Alhasil, kita menghasilkan banyak orang PINTAR TETAPI TIDAK ARIF BIJAKSANA. Habibie mengatakan, bila kepadanya
diberikan dua orang untuk dipilih, maka ia akan mendahulukan orang yang BERBUDAYA dari pada cerdas tetapi tanpa budaya (pintar tetapi tidak arif-bijaksana).

Tentu akan senang bila Indonesia hari ini memiliki banyak orang yang PINTAR SEKALIGUS ARIF-BIJAKSANA, begitu lanjut Prof. Habibie. amun, kata Prof. Habibie lebih lanjut, disain pengembangan SDM di Indonesia mengerucut pada kutub PENCERDASAN semata-mata, tanpa proses PEMBUDAYAAN. Hasilnya, para pemimpin negeri ini adalah ORANG-ORANG PINTAR (di bidangnya) tetapi TIDAK ARIF dalam melihat totalitas peradaban bangsa ini.

Prof. Habibie lalu bertanya:
mau kemanakah Indonesia sebenarnya hendak dibawa oleh para pimpinan negeri yg seperti ini?

Tesis Habibie ini mengguncang dan “meresahkan” pikiran saya selama diskusi berlangsung hingga acara selesai. Lalu seolah muncul kerinduan saya pada pikiran-pikiran kenegarwanan dan kebangsaan serta
kecendekiaan-kearifan ala Habibie yang hari ini sulit saya dapatkan di negeri ini…..sepulang dari Serpong sengaja saya melongok ke Senayan (DPR-RI)….saya pandangi lama gedung ini, lalu saya lihat siapa-siapa
saja kelak yg akan mengisi dan meramaikan gedung ini…keprihatinan saya terjawab sudah…dua hari lalu tgl 9/5/2009 diumumkan nama anggota-anggota legislatif definitif hasil Pemilu 2009….melihat nama-nama mereka…jangankan harapan ttg “kearifan”, bahkan “kecerdasan” pun menjadi barang langka di gedung ini…pantas bila lembaga ini diragukan banyak pihak…..mungkin inilah jawaban thd pertanyaan Prof. Habibie: Peradaban Indonesia memang baru “sampai disini” saja….:-)

disampaikan di facebook oleh Arya Hadi Dharmawan
Dosen Ekologi Politik dan Teori Sosial Hijau – Pascasarjana IPB


Responses

  1. aih aih, benar2 berat tantangn pendidikan indonesia ya..
    pendidikan bagus = kemajuan bangsa, saya masih percaya itu..

    masalahnya pendidikan sekarang itu tidak didekatkan dengan realita yang ada, sehingga ilmu boleh tinggi namun ternyata realita menolak ilmu tinggi tersebut baik secara akademis atau pembudayaan yang dijelaskan pak habibie..

    rindu sosok seperti pak habibie jadi pemimpin kita..hehe

  2. siap2 sampeyan yg jadi menteri pendidikannya🙂

  3. amin, tapi saya masih ada fokus yang lain yang sesuai dengan bidang saya..hehe


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: