Posted by: media surviva | 25 May 2009

Sepi Ing Pamrih, Rame Ing Gawe

Negeri tercinta ini, telah mewariskan pitutur yang begitu luhur, yaitu “sepi ing pamrih, rame ing gawe”, yang berarti keharusan untuk bekerja keras, namun tidak semata-mata untuk mendapatkan imbalan bagi dirinya sendiri. Oh…alangkah indahnya jika di negeri ini, memiliki banyak orang yang menerapkan pitutur itu, alangkah cepat pulihnya daerah-daerah yang kena bencana, jika prinsip itu dapat diterapkan di sana.

Alih-alih pitutur itu diterapkan dalam masyarakat, yang terjadi dalam keseharian, kita sering sekali mendengar bahwa dana bantuan bencana, ditilep pejabat, beras untuk keluarga miskin dikurangi jatahnya, bantuan kesehatan orang miskin di korup, dana sekolah untuk anak para dhuafa tidak disalurkan dan kisah biadap lainnya. Banyak fasilitas yang seharusnya gratis, namun rakyat harus membayar sejumlah uang, dengan alasan biaya administrasi, uang transport untuk distribusi bantuan, uang lelah, uang catat, uang tanda tangan, uang stempel dan biaya-biaya yang didasarkan pada pamrih semata.

Pamrih itu sendiri merupakan suatu motif yang melandasi pemikiran dan tindakan kita sehari-hari. Bisa jadi pamrih tidak hanya berupa materi semata, seorang calon gubernur mendatangi ke perkampungan kumuh, memeluk anak kecil, menyantuni beberapa kilo beras dan memberikan semangat hidup bagi rakyat di situ, bertujuan untuk membentuk citra diri kepada banyak orang, supaya disebut orang yang baik hati, pemurah, ataupun berhati mulia, agar nanti dalam pemilu dirinya dapat memanangkannya

Jika kita ingin menerapkan satu bagian amal kita, supaya sepi ing pamrih, maka lepaskan dulu semua ego, baik utuk memperkaya diri, untuk menang maupun untuk kebutuhan sendiri. Sedangkan rame ing gawe, pada tataran “amal”, sebaiknya dilakukan karena “amal” itu merupakan kewajiban panggilan dari dalam diri seseorang, dimana tanpa melakukannya kita merasa ada sesuatu yang kurang dengan keberadaan kita. Ada ruang kosong yang menuntut untuk dipenuhi. pada proses selanjutnya. Pada akhirnya “amal” itu menjadi kebutuhan bagi kita, bahwa kita harus berbagi, bahwa hakikinya kita ini harus tolong menolong, dan kitapun harus mengabdikan diri kita untuk tugas kemanusiaan.

Jika kita dapat menerapkan pituah Sepi ing pamrih, rame ing gawe, kitapun akan mendapatkan suatu sensasi kebahagiaan dari kepuasan berbagi. Biasanya kita sudah mendapakan kenikmatan itu, persis ketika niat untuk melakukannya muncul di benak kita, pada waktu melaksanakan, dan apalagi sesudah laku itu kita jalankan.

Kita sebenarnya masih dapat melihat, orang-orang yang melakukan pekerjaan sukarela, tanpa mengharap imbalan. Lihat saja ketika ada bencana alam, maka kita akan melihat orang-orang yang bahu membahu untuk menolong sesama, kitapun masih dapat melihatnya pada acara gotong royong warga di pedesaan, di sudut-sudut kota yang penuh penderitaan pun kita juga masih sering melihat orang yang menolong orang lain, dengan kesadaran tinggi tanpa pamrih sedikitpun.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: