Posted by: media surviva | 29 May 2009

Wasiat Ali Tentang Kekayaan dan Kemiskinan

Suatu hari, Ali bin Abi Thalib berkunjung ke Bashrah. `Ala yang dikenal kaya raya meminta agar Khalifah berkenan untuk mengunjungi rumahnya. Ia berpikir bahwa khalifah yang menguasai hampir separoh dunia itu sangat layak untuk dijamu di rumahnya.
Sesampai di rumah `Ala, Amirul Mukminin sangat kagum melihat kemewahan rumahnya. Ia sendiri hanya tinggal di rumah sederhana layaknya rakyat biasa. Setelah puas memandang interior rumahnya, Ali bin Abi Thalib menghampiri tuan rumah, sambil berkata: “Wahai `Ala, apa untungnya memiliki rumah sebesar ini, padahal engkau memerlukan rumah yang lebih besar dan lebih mewah kelak di akherat?”

Pertanyaan Ali tidak bisa dijawab oleh `Ala. Pada mulanya ia berpikir bahwa sang khalifah hanya layak dijamu di istananya yang mewah dan megah itu, tapi ternyata sang khalifah bukanlah “orang dunia”. Ia tidak memandang dunia lebih dari sayap nyamuk. Kekuasaan yang digenggamnya tidak lebih dari sekadar sarana untuk beribadah kepada Allah dengan cara melayani makhluq-makhluq-Nya, yang bernama manusia. Ia menguasai dunia, tapi tidak dikuasai dunia.
Melihat perubahan mimik dan perwajahan tuan rumah, Ali bin Abi Thalib segera dapat menangkapnya. Apalagi sebelumnya ia telah mengetahui bahwa tuan rumah mendapatkan kekayaannya melalui jerih payahnya sebagai saudagar, bukan dari hasil KKN.

Oleh karenanya, Khalifah Ali segera menyampaikan pesannya: “Wahai `Ala, engkau bisa menjadikan rumahmu yang besar ini sebagai kendaraan yang akan mengantarkanmu pada rumah yang lebih besar di akhirat kelak”

Betapa gembiranya tuan rumah mendengar pernyataan khalifah yang bijak itu. Ia segera menyambutnya dengan pertanyaan: “ Bagaimana caranya, wahai Amirul Mukminin?”
Ali menjawab: “Engkau buka rumahmu ini untuk para tamu yang menghajatkannya, ikat silaturrahmi di antara kaum Muslimin, bela, dan tampakkan hak-hak kaum Muslimin di rumahmu, jadikan rumah ini sebagai tempat pemenuhan hajat saudara-saudara sesama Islam, dan jangan batasi hanya untuk kepentingan dan keserakahan dirimu semata-mata.”

Puas dengan pernyataan dan jawaban Khalifah, tuan rumah memanfaatkan kesempatan langka itu untuk mengajukan permasalahannya yang lain. Ia bertanya: “Wahai Amirul Mukminin, aku mempunyai seorang saudara. Dia telah mengubah total cara hidupnya.

Dia sekarang hanya berkhalwat di tempat-tempat sunyi, berpakaian kumuh, meninggalkan pekerjaan, bahkan menelantarkan keluarganya. Saudaraku yang bernama `Ashim bin Ziyad Al-Haritsi ini selalu mengatakan: `Semua itu aku lakukan semata-mata hanya ingin mendekatkan diri kepada Allah Swt.’ Apakah sikap dan perbuatan saudaraku itu benar?”
Ali bin Abi Thalib meminta agar `Ashim dihadirkan ke hadapannya.

Di depan `Ashim, khalifah berkata agak kasar, “Wahai `Ashim, orang yang telah memusuhi dirinya sendiri! Sungguh setan telah memperdaya akalmu. Mengapa engkau telantarkan anak dan istrimu dengan alasan ingin mendakatkan diri kepada Allah?”
“Apakah kau kira bahwa Allah yang menciptakan alam semesta beserta seluruh kenikmatannya itu tidak rela jika kau gunakan kenimatan itu secara tepat? Demi Allah, tidak begitu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah!”

Merasa terpojok, kemudian `Ashim menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, aku lakukan semua ini semata-mata karena ingin meniru kezuhudan dan kesahajaanmu. Engkau hidup susah, akupun demikian. Engkau berpakaian kasar, akupun meniru. Engkau cukupkan dengan makan sekeping roti, akupun mencontohmu. Engkau adalah panutanku, wahai Amirul Mukminin.”

Menghadapi jawaban `Ashim, Ali mencoba untuk mengklarifikasi dan mendudukkan persoalan pada tempatnya. Ia berkata, “Wahai `Ashim, aku berbeda dengan kamu. Aku memegang kekuasaan khilafah kaum Muslimin, sedangkan kamu tidak. Di bahuku terpikul amanat yang amat berat, sedangkan kamu tidak demikian. Aku mengenakan jubah kepemimpinan, sedangkan kamu adalah rakyat yang aku pimpin.”
“Tanggung jawab seorang pemimpin di hadapan Allah itu teramat sangat berat. Allah mewajibkan para pemimpin untuk berbuat adil kepada setiap rakyatnya, sedangkan rakyat yang paling lemah adalah standar bagi dirinya. Seorang pemimpin selayaknya hidup seperti rakyatnya yang paling sederhana agar tercipta solidaritas dan perasaan senasib seperjuangan. Oleh karena itu, di bahuku ada kewajiban yang harus kutunaikan, sedangkan di bahumu ada kewajiban lain yang harus engkau laksanakan.”

Kita mengenal baik dua menantu Rasulullah Saw, yaitu Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Yang satu kaya raya, sedangkan yang lain sederhana, jika tidak boleh dibilang miskin. Kedua-duanya adalah kesayangan Rasulullah, bukan karena kayanya atau karena sederhananya. Kedua memantu itu disayang Rasulullah karena keshalihannya


Responses

  1. Mantap.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: