Posted by: media surviva | 18 June 2009

Alita di Tangan Ita

Dari nol, wanita ini sukses mengembangkan bisnis telekomunikasi dan TI beromset ratusan miliar rupiah. Bagaimana dia melakukannya?

Hidup sering mengajarkan untuk mencintai sesuatu yang sebenarnya kurang disukai. Sebab, bisa jadi di kemudian hari, apa yang kurang disukai justru malah digenggam erat-erat. Perumpamaan inilah yang kini mendapat pembenaran dalam diri seorang wanita sukses di bisnis telekomunikasi dan teknologi informasi: Ita Yuliati Joemhana. Ada apa gerangan?

Kalender mesti dibalik lebih dulu ke dekade 1970-an. Awalnya, Ita tidak menyukai jurusan yang diambilnya di Akademi Teknis Nasional/Atenas (kini Institut Teknologi Nasional/Itenas): Teknik Elektro. Jurusan itu dipilihnya karena di Fakultas Teknik Atenas saat itu (1979) hanya ada dua jurusan.
Jurusan lain, Teknik Geodesi, sama sekali tidak membetot minatnya. Kalaupun akhirnya Teknik Elektro dipeluknya, itu lantaran alasan sederhana: tanpa tes.

Namun, apa yang terjadi selanjutnya sungguh di luar dugaan. Setelah menekuni, Ita seperti perangko dengan amplopnya: lengket dengan ilmu-ilmu yang diambilnya. Bahkan, studi yang ditempuhnya kelak mengantarnya menjadi pengusaha sukses di bidang telekomunikasi dan TI. Ita sukses mengembangkan Alita Indonesia (Grup Alita). Dari tahun ke tahun bisnis yang ia rintis sejak 1996 itu tumbuh supercepat. Mempekerjakan 400-an orang, omset tahunan Alita pada 2006 di atas Rp 350 miliar. Tak pelak lagi, Ita adalah bintang baru di
industri yang hot ini.

Kiprah sukses Ita membangun Alita Indonesia memang menjadi oase tersendiri bagi industri telekomunikasi dan TI. Ia sukses di di bisnis telekomunikasi yang cenderung didominasi wirausaha pria. Perempuan cantik ini mulai nyemplung industri telko saat lulus kuliah, 1982. Begitu lulus sarjana muda, dia langsung diterima di PT INTI, anak usaha PT Telkom di Bandung. Di sini, ia diterjunkan di bagian transmision engineering. “Saya berkembang dan belajar banyak hal di INTI karena dilibatkan dalam berbagai proyek. Saya mengenal lingkungan industri telekomunikasi secara keseluruhan juga saat di INTI,” ungkapnya.

Tentu saja, wanita kelahiran Bandung 30 Juli 1960 ini beruntung bisa bekerja di INTI yang ketika itu merupakan satu-satunya perusahaan di Indonesia yang mengerjakan proyek infrastruktur telekomunikasi seperti switching, produksi telepon dan fiber optic – waktu itu masih monopoli. Di perusahaan ini pula
Ita mengenal vendor telekomunikasi terkemuka asal Jepang yang kelak menjadi partnernya, NEC. Seiring dengan pengayaan wawasannya dengan dunia praktik, Ita menyelesaikan S-1 di Atenas, dengan mengambil konsentrasi bidang digital microwave.

Tujuh tahun bekerja di INTI, pada 1989 Ita meninggalkan Bandung karena menikah dan mengikuti suaminya menetap di Jakarta. Kebetulan juga INTI tak punya cabang di Ibu Kota. Setelah mencari pekerjaan, dia mendarat di PT Nasio Indonesia. Ini salah satu perusahaan telekomunikasi swasta pertama di Indonesia — berdiri pada 1969 – yang merupakan mitra lokal NEC. Di sini, kesulitan teknis nyaris tak ditemui karena lingkungan kerja dan bisnisnya sama dengan INTI. Dalam pekerjaannya, ia pun masih berhubungan dengan NEC, Indosat dan Telkom.

Ita pamit undur dari Nasio pada 1996 karena pemiliknya meninggal dunia. Lebih dari itu, ia ingin punya usaha sendiri meski skala kecil. Bahkan, sebenarnya ia telah merancang pendirian usaha itu pada akhir 1995. Dengan mengibarkan entitas PT Alita Indonesia, titel wirausaha pun disandangnya. Ia memulainya
dengan dua orang: satu direktur dan satu pramukantor. Direkturnya, tak lain, Ita sendiri.

Seperti jodoh yang tak lari ke mana. Tak perlu waktu lama bagi Alita untuk menapak bisnis. Langkah pertama diayun ketika PT Indosat mendapatkan proyek pengembangan infrastruktur telekomunikasi (fixed line) di seluruh Kamboja dan membutuhkan mitra dari Indonesia untuk pengerjaan. Indosat sempat menawari
beberapa perusahaan Indonesia (network provider) untuk bergabung, tapi tidak ada yang berminat. Ita tertantang dan merasa punya kompetensi. Maklum, meski perusahaannya masih baru, bidang itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Di proyek ini, awalnya ia hanya ditugaskan menyusun konsep dan desain. Namun lama-kelamaan, karena dinilai punya kompetensi, juga diserahi pengerjaannya hingga selesai.

Ita sangat terkesan dengan pengalamannya di Kamboja karena saat itu suasana di negeri itu masih kacau, suasana perang. Banyak ranjau dan sering terdengar dentuman tembakan. “Saya ke mana-mana dikawal dan tahunya bolak-balik kantor-hotel karena gawat. Nggak berani ke lapangan. Tapi ternyata di sana kami bisa survive juga,” katanya mengenang. Proyek di Kamboja berlangsung dua tahun. “Kami memberangkatkan teknisi-teknisi Indonesia ke sana. Makanya meski dalam negeri krismon, kami malah dapat dolar,” ujar Ita yang melihat proyeknya di Kamboja lebih untuk memperkaya rekam jejaknya.

Alita baru mulai menggarap domestik pada 1997 di Semarang. Di kota ini, NEC berbisnis pengembangan jaringan dengan PT Mitra Global Telekomunikasi Indonesia, perusahaan KSO (kerja sama operasional) Telkom di Jawa Tengah. Ita memohon perusahaan Jepang itu mengalihkan pekerjaan maintenance dan trouble
shooting ke Alita. Semula pihak NEC skeptis Alita bisa mengerjakannya. Namun, bukan wirausaha namanya kalau lembek. Ita mampu meyakinkan sehingga keluarlah Ocassion Support Agreement. “Kami yang me-maintain semua peralatan NEC di sana. Proyeknya nggak banyak. Tapi dari situ kami makin yakin, kalau kami
mau, pasti kami mampu,” ujarnya tandas.

Sedikit-sedikit menjadi bukit, akhirnya benar-benar terjadi. Tak lama setelah itu, satu demi satu tawaran proyek menghampiri. Alita mendapatkan kesempatan membangun menara base transceiver system (BTS) dari IM3 (Indosat) di Jabotabek. Tidak banyak memang, hanya lima menara. Namun, ini menjadi proyek
pembelajaran karena Ita justru menderita banyak kerugian saat mengerjakannya.
Di lain sisi, proyek itu menjadi momentum karena ketika belum selesai, Alita sudah ditawari Satelindo, juga untuk membangun menara, dalam jumlah lebih banyak: 25. Dan bak bola salju, setelah itu giliran Excelcomindo (XL), yang memercayainya mengerjakan proyek instalasi mini link antarmenara. Tak
tanggung-tanggung, Alita bahkan bertindak sebagai main contractor yang menginstalasi semuanya. Adapun barang (perangkatnya) disuplai NEC. “Kami mulai menanjak dari sini. Proyek kami makin bertambah dan makin dipercaya. Sampai tahun kemarin, proyek dari XL saja lebih dari US$ 35 juta,” ungkapnya.


Setelah itu, jalan pun terentang lapang. Reputasinya makin dikenal sebagai pemain yang patut diperhitungkan di bisnis konstruksi dan pemasok telekomunikasi. Bahkan, Alita kemudian juga masuk di bisnis TI setelah diajak berpatungan dengan anak usaha AT & T, Sterling Commerce, dengan mendirikan PT Alita Process Inovasi (API). Sterling Commerce kuat dalam pengembangan aplikasi dan proses bisnis, khususnya supply chain, untuk kepentingan outsourcing. Di API, Ita memegang mayoritas saham (70%). Di sini ia bukan
menjadi reseller. “Platform bisnis ini jutaan dolar. Saya juga harus invest banyak. Belum lagi, saya harus melakukan edukasi ke pelanggan di Indonesia karena bisnisnya value added sehingga butuh banyak penjelasan. Makanya, saya nggak mau sekadar jadi reseller,” katanya.

Diawaki 20 karyawan inti, API berkembang pesat dan telah memiliki banyak klien. Pertamina, misalnya, memercayainya mengembangkan sistem tracking dengan teknologi Global Positioning System (GPS) untuk mobil-mobil tangki Pertamina di Sulawesi. “Kami yang membuat middleware, petanya, dan sebagainya,” ungkap Ita. API juga sedang membantu klien perusahaan semen di Vietnam mengembangkan aplikasi GPS untuk sebuah perusahaan taksi, dan membantu BNI dalam pengembangan sebuah proses bisnis.

Sukses di TI benar-benar membuat Ita kian bersemangat berbisnis. Selain mendirikan API, di bisnis TI, Alita mengembangkan pula PT Nutech Integrasi (NI) – berpatungan dengan Nutech Malaysia (20%). Sementara API lebih banyak ke proses bisnis dan supply chain management, spesialiasi NI di bidang payment solution. NI mengembangkan digital smartcard, bekerja sama dengan Freedom. Salah satu proyeknya, ticketing system dan smartcard proyek bus Trans-Jakarta di Jakarta (koridor II dan III) – termasuk pemeliharaannya. “Jadi, di bisnis TI kami sudah punya dua kaki (API dan NI). Ini bisnis masa depan,” katanya menerangkan.

Sebenarnya, penetrasi ke bisnis TI merupakan bagian dari strategi Ita untuk tidak menaruh telur di satu keranjang. Apalagi, menurutnya, bisnis infrastruktur telekomunikasi juga bisa mengalami saturasi. Contohnya, penetrasi infrastruktur untuk 3G yang katanya akan boom ternyata tak membutuhkan tambahan infrastuktur dari yang sudah dimiliki operator GSM. “Saya pikir ke depan adalah era aplikasi dan konten. Untung sekali datang mitra asing seperti Freedom dan Sterling yang mencari kami,” ujarnya mengenang. Hanya saja, di bisnis TI pihaknya tak ingin masuk sebagai pengembang software pada umumnya seperti Balicamp, tapi memilih berinvestasi mengembangkan software untuk kepentingan alih daya. Masih di bisnis TI, dia juga sedang menjajaki peluang bisnis content provider dan tengah berdiskusi dengan salah satu mitranya dari Jepang. Apa itu wujudnya, ia belum mau menceritakannya.

Yang jelas, antusiame menggarap bisnis TI tak mengendurkan cengkeraman Alita di bisnis telekomunikasi. Ternyata, sejak 1999 Ita membeli 50% saham PT Nasio Karya Pratama, perusahaan tempatnya pernah bekerja. Rupanya, perusahaan itu mengalami stagnasi dan istri pendiri memintanya kembali, dengan status
sebagai pemilik. “Akhirnya, saya beli 50% sahamnya dan saya mulai bangun kembali dari nol,” ujarnya seraya menjelaskan, sejak 2005 Alita Indonesia dijadikan holding.

Melihat kiprahnya, tak bisa dipungkiri, Alita Indonesia, holding company yang dikibarkan Alita, kini berkembang amat pesat. Setidaknya, punya lima anak usaha: PT Nasio Karya Pratama, PT Buana Selaras Globalindo dan PT Alita Nasio Kaliyanamitra (pembangun BTS), ketiganya terkait dengan bisnis
telekomunikasi; serta API dan NI, yang membidangi TI. Bukan cuma itu, dari seorang pramuwisma, tak dinyana Ita menjadi wirauaha yang mempekerjakan 400-an orang dengan omset US$ 37 juta pada 2006, dan tahun 2007/08 ditargetkan Rp 750 miliar. “Saya sendiri nggak menduga akan secepat ini. Saya juga ketar-ketir dan berusaha meredam pertumbuhan agar bisa terkendali,” ujar Ita yang menghibahkan 5% saham holding ke karyawan (koperasi).

Tentang rahasia di balik pertumbuhan bisnisnya, Ita mengatakan, semua itu tak lepas dari visi yang menjadi mimpinya dari awal bahwa dirinya ingin Alita menjadi pemain internasional. Ia berusaha konsisten dengan mimpinya itu. “Saya baru mengambil dividen tiga tahun terakhir. Dulu kalau untung, tidak saya ambil, namun saya invest lagi untuk pertumbuhan,” ujarnya. Tak hanya itu, dari awal pihaknya berusaha menciptakan sesuatu yang punya differentiation point. “Makanya, kami mengupayakan meraih ISO dari KEMA. Kami
termasuk perusahaan telekomunikasi di Indonesia yang pertama mendapatkannya,” ujarnya lagi. Kualitas memang jadi perhatian utamanya. Jangan heran, dalam proses rekrutmen SDM, ia berusaha menggunakan standar profesionalisme ketat dan juga menggundang konsultan tersendiri.

Kiat lain, Ita berusaha tak bosan menggali ilmu-lmu baru serta terus mengembangkan jaringan. “Di bisnis jasa, networking sangat penting. Tentu ini bukan networking dalam arti KKN (korupsi-kolusi-nepotisme),” ia mengemukakan prinsipnya. Selain itu, juga harus membangun citra baik di mata pelanggan, khususnya buat dirinya sebagai pemimpin perusahaan. “Sekali image rusak, akan susah menambalnya. Kepercayaan itu juga tumbuh dari image,” Ita sekali lagi menjelaskan prinsipnya. Alita sendiri termasuk perusahaan yang aktif
berpameran di luar negeri. Tahun 2006, perusahaan ini jadi salah satu dari segelintir pemain Indonesia yang berani berpameran di ajang Communic Asia di Singapura.

Koesmarihati, tokoh bisnis telekomunikasi yang juga anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia, melihat Ita sebagai wirausaha nasional bidang TI dan telekomunikasi yang bisa dibanggakan. “Saya mengikuti sepak terjangnya sejak merintis pekerjaan telekomunikasi di Kamboja, dengan Telkom dan Indosat. Di Indonesia, saat ini entrepreneur wanita biasanya putri seorang entrepreneur. Namun, Ita sukses karena usahanya yang gigih,” ungkap Koes yang pernah menjabat sebagai direksi PT Telkom. Koes sering bertemu Ita di banyak ajang, seperti kongres besar telekomunikasi di Singapura, Jenewa, dan Hong Kong. Ia melihat bisnis Alita Indonesia kini bertaraf internasional.

Menurutnya, Ita adalah wirausaha yang profesional dan tidak manja. “Dia mempergunakan female touch untuk keluwesannya bergaul dan memimpin perusahaan,” ungkap Koes yang berharap operator telekomunikasi di Indonesia, termasuk Alita, bisa menjadi pemain global. Kalau diperlukan, menurutnya, pemerintah mestinya memfasilitasi.

Sejauh ini, Ita telah mencoba masuk di pasar mancanegara, di antaranya mendirikan Alita Europe untuk menggarap bisnis telekomunikasi di Eropa Timur. “Saya pilih Hungaria karena Eropa Timur masih bersabahat dengan kita.
Negara-negara sekitarnya belum berkembang sehingga ada hal yang bisa kita lakukan,” tutur wanita yang di Hungaria bermitra dengan perusahaan telekomunikasi setempat, Linecom. Yang pasti, meski ekspansif, Ita tetap ingin fokus di bisnis telekomunikasi dan TI. Karena itulah, ia tak berminat ketika diajak terjun ke bisnis lain oleh kenalannya, termasuk pertambangan dan biofuel yang tengah hangat. Di luar telekomunikasi dan TI, Ita hanya berbisnis restoran Bali Café (di Phnom Penh, Kamboja), Rumah Sutera (Dharmawangsa Square, Jakarta) dan perusahaan promosi produk wisata di Hungaria. Namun itu semua karena hobi pribadi, bukan Alita. Hanya bisnis percetakan digital (PT Sumber Sinar Mentari) yang dikonsolidasinya ke Alita Indonesia karena sarat teknologi dan di Indonesia hanya ada lima perusahaan sejenis — membuat emblem mobil dan motor. Kelak, Sumber Sinar Mentari akan dikembangkan memproduksi smartcard.

Dengan keberhasilan yang diraihnya itu, Ita pantas bangga. Bisnis yang dibangunnya dari nol kini sudah membesar dan semua anak usaha dipercaya bank. Namun, ia tak ingin pertumbuhan bisnisnya hanya sampai di sini. Itulah sebabnya, ia kini menyiapkan perusahaan patungan yang memproduksi antena dari Hungaria. “Ini bagian dari pengembangan local content. Apalagi, tiap tahun saya paling tidak menyuplai 2.000 link (antena) ke XL yang semua kami pasok dari impor (AS),” ungkap Ita yang mengharapkan perusahaannya juga memproduksi peranti keras untuk jaringan WIMAX maupun CDMA.

Lewat rencana-rencana yang direntangkannya itu, Ita bahkan berani menargetkan omset sebesar Rp 1 triliun pada 2009. Untuk menampung pertumbuhan organisasinya, ia kini membangun office tower (Alita Tower) dengan konsep smart building di Jln. T.B. Simatupang, Jakarta, yang akan dijadikan kantor pusat kelompok usahanya.

Mungkinkah bisnisnya membesar karena secara umum industri telekomunikasi memang sedang boom? “Saya yakin, meski pasar boom, bila kami nggak punya kompetensi, maka kami nggak akan mendapat kue pasar,” jawabnya serius. Yang pasti, melihat semua ini, ia merasa menerima blessing bahwa dulu dirinya mengambil kuliah teknik elektro, sehingga bisa bekerja di INTI serta kenal dengan teknologi telekomunikasi dan microwave. Kalau tidak, belum tentu ia menjadi wirausaha sukses seperti sekarang. Ya, kadang kita memang harus belajar mencintai sesuatu yang awalnya kurang kita sukai.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: