Posted by: media surviva | 1 July 2009

‘Uang’ Dari Asset Anda Yang Berputar…

by Muhaimin Iqbal (geraidinar.com)

Saya sering mendapatkan pertanyaan dari para pembaca terkait dengan pandangan atau prediksi saya tentang mata uang kertas – yang selalu saya gunakan US$ sebagai contohnya – agar tidak menyinggung siapa-siapa di negeri ini. Salah satu dari pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah mengapa saya berpandangan negatif terhadap masa depan US$ ?, toh sampai sekarang buktinya merekalah uang yang paling perkasa di dunia ?.

Ada dua jawaban yang saya bisa pakai untuk menjawab pertanyaan ini. Pertama karena kehancuran riba sudah diberitakan di Al-Qur’an bahwa “ Allah memusnahkan riba…”(QS 2:276), sedangkan riba adalah inherent (sifat bawaan) dari uang kertas. Karena uang kertas nilainya terus menurun – tidak ada satu uang kertaspun yang nilainya stabil sepanjang zaman , maka untuk mengkompensasi penurunan nilai inilah kreditur meminta tambahan dari debitur.

Memang di kalangan pelaku syariah akhirnya mempunyai solusi untuk mengganti tambahan tersebut menjadi margin jual beli dalam aqad Murabahah atau bagi hasil dalam aqad Mudharabah. Namun demikian meskipun solusi ini halal dan sudah ada fatwanya dari DSN-MUI, dampak dari focus muamalah pada Murabahah dan Mudharabah ini memarginalkan muamalah yang penuh kasih sayang dan pahalanya lebih besar dari sedeqah, yaitu pinjaman yang keindahannya digambarkan dalam hadits berikut :

Diriwayatkan dari Anas, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ; “ Pada saat aku mi’raj, aku melihat tulisan dipintu surga yang berbunyi : “setiap sedeqah dibalas sepuluh kali, dan pinjaman dibalas delapan belas kali”. Aku bertanya : “Wahai Jibril, mengapa pinjaman diberi balasan yang lebih dari sedeqah ?”. Jibril berkata, “ Karena seseorang bisa minta sedeqah pada saat dia tidak memerlukannya, tetapi peminjam hanya meminjam karena memang benar-benar butuh” ”.(HR. Ibn Majjah dan al Bayhaqi).

Jawaban kedua saya adalah jawaban ilmiah berdasarkan statistik yang terkait dengan hutang Amerika yang terus menggelembung, supply uang kertas yang meroket dlsb. yang ada dalam serangkaian tulisan-tulisan saya sebelumnya.

Lantas pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kita menyikapi masa depan uang kertas yang nilainya terus menurun ini ?. Jawabannya adalah kelola uang Anda berdasarkan fungsinya seperti yang pernah saya tulis dalam tulisan tanggal 5 Desember 2008 dengan judul Mengelola Uang Sesuai Fungsinya… .

Perlu juga dipahami bahwa meskipun Dinar selalu kami promosikan sebagai uang yang terbukti stabil daya belinya lebih dari 1400 tahun; ‘uang’ Anda dalam artian luas yaitu sebagai medium of exchange , sebagai unit of account dan sebagai store of value tidak juga harus selalu berupa Dinar dan Dirham.

‘Uang’ terbaik Anda adalah asset yang paling mudah Anda putar. Jadi kalau misalnya Anda pedagang beras, maka ‘uang’ berupa stock barang dagangan beras-lah yang terbaik – karena Anda sebagai pedagang beras bisa menjadikan beras likuid kapan saja (menjadi medium of exchange) , nilai-nya tidak tergerus oleh inflasi (menjadi store of value) dan pertumbuhan kekayaan Anda-pun dapat dihitung dengan akurat berdasarkan jumlah barang dagangan beras yang Anda miliki (sebagai unit of account) .

Karena asset yang terjaga nilainya (tidak rusak oleh inflasi), mudah diputar (likuid) dan dapat dicatat tanpa bias nilainya (nilai riil pasarnya selalu up-to-date) adalah asset milik para pedagang, maka ini sejalan dengan hadits Rasullah SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Majjah bahwa sembilan dari sepuluh pintu rizki adanya di perdagangan.

Bahkan emas dan perak yang paling umum digunakan sebagai uang-pun, dalam hadits disandingkan dengan barang dagangan lainnya – artinya berkedudukan hukum syariah yang sama. Hadits berikut adalah contohnya : “Hadis Nabi Riwayat Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibn Majah, dengan teks Muslim dari ‘Ubadah bin Shamit, Nabi s.a.w bersabda: “(Juallah) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, beras gandum dengan beras gandum, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (denga syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai.”

Jadi marilah membangun kemakmuran dengan ‘uang’ yang sesungguhnya yaitu barang dagangan yang halal dan yang paling mudah bagi kita untuk memperjual belikannya. Wa Allahu A’lam.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: