Posted by: media surviva | 17 July 2009

Melindungi Diri Dari Kebijakan Para Penguasa Mata Uang…

usdefSudah dua hari ini harian nasional kenamaan – Kompas , memuat tentang defisit AS. Head Line hari ini bahkan lebih spesifik lagi yaitu “Defisit AS Itu Genting – Indonesia Sebaiknya Melakukan Antisipasi Dini”. Inti pesan ini sebenarnya sudah menjadi bahan dari tulisan-tulisan saya di situs ini sejak akhir 2007, tetapi baguslah sekarang ada yang mengangkatnya secara lebih luas – mudah-mudahan bangsa ini siap kalau sesuatu yang sangat besar terjadi terhadap US Dollars.

Masalah kegentingan defisit AS memang hal yang sangat serius yang sebaiknya kita aware. Betapa tidak, tahun ini defisit tersebut mencapai US$ 1.09 trilyun atau 12.7% dari Produk Domestik Bruto. Padahal menurut IMF (yang suara terbesarnya juga ada di AS), ancar-ancar defisit yang aman itu maksimum hanya 3% dari PDB. Jadi defisit AS ini sudah jelas tidak aman menurut standar mereka sendiri.

Hal ini pun diakui oleh mereka seperti yang terungkap dari pernyataan Maya McGuinnes – Presiden dari Committee for a Responsible Federal Budget negeri itu : “Hampir semua orang yang bersikap jujur tahu betul bahwa kita telah mencapai sebuah titik, dimana kita berada dalam kondisi fiskal berbahaya”.

Lantas apa yang akan dilakukan oleh penguasa negeri itu ?, ini yang harus kita waspadai. Ibarat balon yang terus ditiup, hanya ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah dihentikan tiupannya – kemudian balon dikempeskan; artinya akan terjadi depresi besar-besaran di negeri itu, kemungkinan ini ada tetapi kecil karena karakter bangsa itu yang tidak mau mengakui ‘salah’ dalam sejarahnya.

deficitKemungkinan kedua adalah terus meniupnya, sampai balon benar-benar meletus. Ini pernah mereka lakukan dengan ledakan besar yang terjadi tanggal 15 Agustus 1971 dengan apa yang disebut Nixon Shock. Ledakan tersebut adalah ketika Amerika secara sepihak mengumumkan bahwa mereka tidak lagi mengkaitkan mata uangnya dengan emas – padahal ini yang diperjanjikan dalam perjanjian yang mereka motori sendiri yaitu Breton Wood Agreement.

Ketika seluruh dunia shock dan menjadi korban dari keputusan ini; tidak demikian halnya dengan para pemimpin mereka – mereka paling siap karena merekalah yang merancang dan memutuskan. Hal-hal demikian terus terjadi dalam sejarah negara-negara di dunia yang menggunakan uang selain emas dan perak. Di Indonesia kitapun ingat pernah ada yang namanya Sanering Rupiah tahun 1965/1966.

Kedhaliman penguasa mata uang ini tidak akan terjadi bila mereka mengikuti sarannya Ibnu Taimiyyah : “Jumlah fulus ( uang yang lebih rendah dari Dinar dan Dirham seperti tembaga) hanya boleh dicetak secara proporsional terhadap jumlah transaksi sedemikian rupa sehingga terjamin harga yang adil. Penguasa tidak boleh mencetak fulus berlebihan yang merugikan masyarakat karena rusaknya daya beli fulus yang sudah ada di mereka”.

Sebaliknya bila system keuangan yang adil berbasis emas dan perak tidak diterapkan; kejutan –demi kejutan terhadap rakyat atau bangsa lain akan terus terjadi.

Seperti balam novel sejarah terkenal The Virgin Lover’s karya Phillippa Gregory (Touchstone, 2004), sang penulis yang mendasari tulisannya dari riset yang dalam ini menceritakan dialog di kerajaan Inggris tahun 1560 ketika ratu yang masih muda – Elizabeth harus menceritakan kepada kekasihnya Sir Robert Dudley mengenai kebijakan devaluasi mata uang yang sedang dipersiapkannya. Saat itu mata uang Inggris masih menggunakan logam meskipun bukan emas atau perak.

src : geraidinar.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: