Posted by: media surviva | 13 November 2009

Mengeruk Uang dari Beruang

Mengeruk uang dari beruang, demikian yang dilakukan Executive Director Teddy Haouse Co, Ltd, Thailand Sulfa Pituphum Hirunyapich, ketika pertama bertemu di Teddy Hause Sun Plaza Medan belum lama ini.

Pria berusia 29 tahun dan masih melajang ini, bukan sedang bercanda, namun apa yang diungkapkan benar-benar mimpi menjadi kenyataan. Perusahaan yang dipimpin kini memiliki omzet sekitar 100 juta Bath per tahun dari hasil menjual 31 item boneka Beruang dan asesoris yang disebut Teddy Bears.

Awalnya, kata dia, usaha yang dirintis ibunya 30 tahun lalu di Bangkok karena suaminya bernama Teddy mimpi didatangi Beruang dan mereka bercanda ria dalam rumah. Mimpi tersebut, dituangkan ayah dan ibunya dengan membuat bermacam Boneka beruang mulai dari ukuran kecil dan besar dalam satu rumah.

Boneka-boneka tersebut awalnya dipasok ke Eropa tanpa merek sesuai pesanan. Setelah berjalan 10 tahun menjadi pemasok boneka beruang terutama ke Prancis dan negara lainnya di Eropa, Teddy memutuskan membuat merek sendiri yaitu Teddy Bears.

Sulfa, sejak berusia empat tahun sudah diajari ibu dan ayahnya membuat boneka Beruang, sehingga menjaga kualitas dan keamanan mainan boneka Beruang menjadi prioritas utama. “Saya menjaga mutu dan kualitas produksi boneka mainan beruang jangan sampai membuat anak-anak sakit,” ujarya kepada Bisnis belum lama ini.

Dia memahami betul selera konsumen, sehingga 31 item boneka beruang diberikan asesoris, baju, dan mainan lain. Dengan demikian, boneka Beruang bukan saja disukai anak-anak, namun juga dapat menghiasi kursi tamu di rumah.

Sulfa juga tidak lupa melihat acara-acara atau musim yang sedang lagi tren di dunia, sehingga boneka Beruang yang dibuat disesuaikan dengan tren yang lagi marak di masyarakat. Dia mencontohkan ketika Natal dan tahun Baru tiba, Sulfa membuat Beruang dengan asesoris dan pernak-pernik yang menghiasi Natal dan Tahun Baru. Demikian juga ketika hari Raya Imlek, tuturnya, boneka dibuat bernuansa Imlek. Jadi masyarakat selalu menyukai kehadiran boneka Beruang yang terbuat dari kain pilihan itu.

Sebagai generasi kedua dalam usaha Teddy House Co.. Ltd. Thailand, Sulfa menyadari betul bahwa bisnis keluarga biasanya hancur setelah ditangan generasi ketiga dan keempat. Untuk itu, dia berupaya keras menyatukan keluarga agar sama-sama mengembangkan perusahaan dan produk Teddy Bears yang terkenal di Eropa, Asia, dan Amerika Serikat itu bisa betahan dalam beberapa generasi.

Langkah yang dilakukan adalah membuka sejumlah gerai di sejumlah negara dengan sistem waralaba. “Saya mengusulkan kepada keluarga klan Teddy membuka waralaba di sejumlah negara,” katanya. Eropa, Amerika, Vietnam, Malaysia, Singapura, Taiwan menjadi sasaran pertama mengembangkan usaha waralaba Teddy Hause. Setelah sukses mengembangan waralaba, di Eropa, pria kurus dan berpenampilan sederhana itu mulai masuk ke negara Jiran seperti Singapura, Malaysia, dan Vietnam. Di Vietnam, misalnya, dalam dua tahun dia mampu mengembangkan gerai menjadi enam dengan sistem waralaba.

Setelah sukses merambah pasar Vietnam, Sulfa baru melirik Indonesia sebagai pasar besar untuk waralaba. Selama ini, kata dia, produk boneka Beruang masuk ke Indonesia dengan diimpor sejumlah pemain di Jawa. Akan tetapi, kata dia, perkembangannya sedikit lambat karena para importir menjual produknya terlalu mahal, sehingga kurang kompetitif dengan produk lain.

Dia bertemu dan berkenalan dengan seorang pengusaha muda dari Medan yang mau membuka dan mengembangkan Teddy House dengan sistem waralaba di Medan. Awal Agustus lalu, pembukaan dan peresmian gerai di Medan dilakukan dan Sulfa sebagai pewaris Teddy House Co., Ltd berkenaan hadir dan menyaksikan sendiri bagaimana respon masyarakat terhadap produk boneka Beruang yang diwariskan keluarganya.

“Respon pasar relatif bagus, sehingga tahun ini akan membuka gerai baru di Pekan Baru dan pada 2010 akan merambah Jawa dengan masuk ke Jakarta dan Surabaya,” tuturnya. Perusahaan boneka dan asesoris bergambar Beruang ini baru pertama kali membuka kantor penjualan di Medan karena melihat prospek bisnis boneka di daerah ini relatif bagus.

“Kami berharap karena animo masyarakat Indonesia mengenai boneka beruang begitu tinggi, penjualan di Indonesia akan melebihi apa yang diperoleh dari cabang Vietnam,” tandasnya.

Sebagai pengusaha, Sulfa menilai Indonesia merupakan satu pangsa pasar potensial, karena masyarakatnya sudah tidak asing lagi dengan boneka beruang buatan Teddy House.

Selain berjualan, konsep Teddy House membuat boneka Beruang, mendidik anak-anak untuk mengenal salah satu binatang yang dicintai.

“Disitulah nilai edukasinya kepada anak-anak, bahwa beruang bisa tidak ribut di rumah walaupun jumlahnya banyak. Memang tidak ribut, karena boneka, bukan binatang sesungguhnya!”

-Master Sihotang (sumatra.bisnis.com)-


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: