Posted by: media surviva | 13 November 2009

Sukses Adalah Akumulasi Keberuntungan

Dukungan lingkungan. Dukungan lingkungan adalah hal yang sangat ditekankan oleh Gladwell. Dia memberikan banyak contoh mengenai orang genius yang gagal. Salah satunya adalah kisah tentang Chris Langan, seorang pria dengan IQ 195 (lebih tinggi daripada IQ Einstein yang sebesar 150). Orang dengan IQ setinggi namun tidak tercatat sebagai manusia berprestasi di dunia, bahkan akhirnya berprofesi sebagai tukang pukul serta penjaga sebuah peternakan kuda.

Langan bukan tidak mencoba untuk sukses. Tetapi dia gagal mendapatkan kesempatan dan gagal mendapatkan dukungan yang diperlukan. Dia berasal dari keluarga broken home yang miskin. Suatu ketika, Langan yang jago kalkulus itu mencoba menyampaikan kritik kepada dosen kalkulusnya yang dia anggap tidak bisa mengajar dengan benar. Alih-alih mendapatkan teman diskusi, yang diperolehnya justru kesalahpahaman.

Ketika kuliah tingkat kedua, beasiswanya dihentikan karena ibunya lupa mengisi formulir yang diperlukan untuk memperpanjang beasiswa. Langan mencoba bernegosiasi dengan pihak kampus tapi ditolak.

Tahun berikutnya dia mencoba kuliah di kampus lain sambil bekerja. Dia mencoba memindahkan jam kuliahnya ke waktu lain agar bisa mendapatkan angkutan ke kampus dengan mudah karena dia memiliki kendala dengan kendaraan. Langan kembali gagal. Begitulah, yang dia peroleh adalah akumulasi “kegagalan” atau “kesialan”.

Menurut Gladwell, Langan tidak cukup memililiki kecerdasan praktis. Dia tidak berhasil mengatasi masalah-masalah praktis yang lazimnya dapat dipecahkan bahkan oleh orang-orang yang kecerdasan analitisnya di bawah dia. Sebenarnya dia membutuhkan dukungan sebagaimana yang diperlukan orang-orang cerdas lain untuk sukses. Dia tidak sanggup menghadapi keruwetan hidupnya itu sendirian.

Lebih jauh Gladwell mengaitkan kasus Langan ini dengan dukungan yang diberikan orangtua terhadap anak-anaknya. Dia melihat orangtua yang kaya umumnya sering berdiskusi dengan anaknya, mengajak anaknya berunding, sementara orangtua yang miskin hanya memberikan perintah.

Orangtua kaya mengharapkan anaknya untuk bernegosiasi, mengungkapkan pikiran, mempertanyakan orang dewasa yang memiliki kewenangan. Sebaliknya, orangtua dari kelompok miskin merasa terintimidasi oleh orang yang memiliki wewenang. (contoh orang yang memiliki wewenang adalah guru di sekolah).

Memang benar bahwa banyak anak dari keluarga miskin umumnya memiliki perilaku yang lebih baik, penurut, tidak merengek, lebih kreatif dalam menggunakan waktu, serta lebih mandiri. Namun anak orang kaya lebih banyak belajar bagaimana berinteraksi secara nyaman dengan orang dewasa dan mengungkapkan pikiran saat dibutuhkan.

Orang seperti Langan tidak belajar bagaimana berdebat dan bernegosiasi dengan mereka yang memiliki wewenang. Langan dan anak-anak semacam itu tidak mempelajari perasaan memiliki hak. Ketika dihadapkan pada berbagai rintangan, hal yang tampak sepele ini bisa menjadi faktor yang penting.

Di kampus-kampus terkemuka di Indonesia, kita juga mungkin dengan sangat mudah menemukan kasus semacam Langan. Banyak anak muda cerdas dari kota kecil atau desa gagal menyesuaikan diri dengan kehidupan kampus di kota besar. Mereka mengalami gegar budaya. Menghadapi hal-hal yang sama sekali tidak terbayangkan sebelumnya, tidak cukup memiliki kemampuan negosiasi, dan tidak memiliki orang tua atau kerabat yang bisa membantunya seketika.

=======

Ada banyak hal menarik terkait dengan budaya yang diungkapkan Malcolm Gladwell dalam Outliers, termasuk kisah yang berawal dari investigasi atas kecelakaan Korean Air.

Salah satunya adalah kesimpulan bahwa sebuah kecelakaan umumnya melibatkan tujuh kesalahan secara beruntun. Salah seorang kapten pilot melakukan satu kesalahan bukanlah masalah. Akan tetapi, salah satu dari copilot melakukan kesalahan setelahnya, yang bila dikombinasikan dengan kesalahan pertama tidak akan mengakibatkan bencana. Sayangnya, mereka kemudian melakukan kesalahan ketiga, dan berikutnya, dan berikutnya lagi. Kombinasi berbagai kesalahan inilah yang menyebabkan bencana.

Dia menyimpulkan bahwa setiap bangsa atau kelompok suku tertentu memiliki sifat dan gaya komunikasi yang khas. Dan hal ini terbukti menjadi salah satu penyebab kecelakaan yang berulangkali terjadi pada Korean Air pada dekade 1990-an.

Pesawat komersial besar setidaknya dikemudikan oleh seorang kapten pilot, seorang first officer (co-pilot), serta flight engineer. Pada bangsa-bangsa tertentu yang memiliki PDI (power distance index) yang besar seperti Korea, seorang first engineer tidak akan berani bicara lugas kepada kapten pilot. Bahkan dalam kondisi yang sudah sangat berbahaya. Itulah salah satu penyebab kecelakaan. Seandainya first officer dan flight engineer mampu bersikap asertif terhadap kapten pilot, ada banyak kecelakaan yang dapat dihindari.

Inilah contoh yan tersirat dan tersurat dalam percakapan dua orang Korea.
Kwacang: cuacanya dingin dan saya agak lapar (maksudnya: coba tolong belikan minum atau makanan).
Kim: bagaimana kalau segelas anggur (artinya: saya akan membelikan anggur untuk Anda).
Kwacang: Tidak usah repot-repot (artinya: saya akan menerimanya kalau kamu mengulangi tawaranmu).
Kim: Anda pasti lapar. Bagaimana kalau kita makan ke luar (artinya: saya memaksa untuk mentraktir Anda).
Kwacang: Apakah aku harus menerinya? (artinya: aku menerimanya).

Ini kasusnya mirip sekali dengan komunikasi model orang Jawa. Orang Korea dan kebanyakan orang Asia, konon, dalam berkomunikasi beroreintasi pada penerima. Artinya, pendengar bertanggungjawab penuh untuk mengartikan apa yang dikatakan. Ini berbeda dengan gaya komunikasi Barat yang berorientasi pemancar sehingga pembicara seringkali mengulang-ulang isi pesannya secara lugas sampai diterima dengan tepat.

Dan kalau model komunikasi dengan PDI tinggi itu diterapkan dalam kokpit maka menjadi sangat berbahaya. Ketika seorang first officer mengatakan: Apakah menurut Anda akan hujan lagi di daerah ini? Maka yang dimaksud adalah: Kapten, Anda telah memutuskan untuk mengambil pendekatan visual, tanpa adanya rencana cadangan, dan cuaca di luar benar-benar buruk. Anda pikir kita akan ke luar dari awan tepat pada waktunya dan bisa melihat landasan. Tetapi bagaimana kalau kita tidak melihatnya? Di luar sana benar-benar gelap gulita dan hujan turun dengan lebat, lalu glide scope sedang rusak.

Ketika flight engineer mengatakan: Kapten radar cuaca benar-benar menolong kita. Maka yang dimaksudkan adalah: Ini bukan malam di mana kita bisa mengandalkan mata kita ntuk mendaratkan pesawat. Lihat apa yang diinformasikan radar cuaca kita: ada cuaca buruk di depan.

Malcolm Gladwell dengan panjang lebar memaparkan bagaimana pola watak suatu kelompok manusia (seperti bangsa atau suku) bisa berpengaruh terhadap jenis pekerjaan atau bidang apa yang cocok digeluti.

Resensi Buku by : Setyardi Widodo (sumatra.bisnis.com)


Responses

  1. Gaya komunikasi kultur Jawa memang mengandalkan kepekaan dari si penerima.🙂

  2. bisa di terima kajian malcom itu,,memang tampak seperti ini lah gaya org timur berkomunikasi


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: