Posted by: media surviva | 27 January 2010

Persisten, Makanan Apa Itu Ya…?

Menurut Calvin Coolidge, tidak ada yang bisa menggantikan posisi dari sikap Persisten dalam menentukan sukses tidaknya suatu usaha. Bukan bakat karena banyak orang yang gagal sebenarnya berbakat. Bukan kecerdasan, karena banyak orang yang cerdas namun tidak meraih apapun dalam hidupnya. Demikian halnya pendidikan, karena fakta menunjukkan bahwa saat ini banyak pengangguran yang berpendidikan tinggi. Persisten merupakan salah satu sikap sebagai kunci sukses yang utama.

Apakah persisten itu? Secara bahasa persisten berasal dari kata dalam bahasa Inggris persistence yang berarti kualitas kepribadian yang mempunyai kemauan kuat  dalam determinasi untuk mencapai sesuatu hingga berhasil. Seorang yang memiliki sikap persisten tidak enggan untuk terus mencoba dan mencoba walaupun berat rintangan, tantangan dan hambatan yang dihadapinya.

Dapat juga dikatakan bahwa sikap persisten merupakan gabungan dari sikap gigih, sabar dan pantang menyerah terhadap apapun yang diusahakannya. Orang yang memiliki sikap persisten selalu ngotot dalam meraih apa yang diinginkannya walaupun menghadapi hambatan dan tantangan.

Dalam kajian Al Quran, sikap persisten ini disebut dengan shabr (Q.S. Al Baqarah 2:153). Shabr dalam ayat Al Quran tersebut agak berbeda dengan kata ‘sabar’ dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia sabar cenderung berkonotasi negatif dan identik dengan kepasrahan tanpa usaha nyata.

Walaupun positif, sikap persisten harus diiringi dengan empat faktor lainnya untuk meraih kesuksesan yang diinginkan.

Pertama, yaitu tujuan atau visi. Sebelum kita melangkah, kita harus memiliki tujuan yang diinginkan. Adanya visi atau tujuan sangat penting, karena hanya dengan mempunyai tujuan, kita memilih arah yanga kan dicapai.

Kedua, adalah perencanaan. Dalam melangkah, perencanaan matang terhadap yang akan dilakukan itu penting sehingga jelas langkah rinci apa saja yang perlu dilakukan untuk mencapai arah tujuan. Selain itu, fleksibilitas dalam pelaksanaan juga perlu diperhitungkan. Seperti misalnya, jika rencana A tidak bisa dilakukan atau sangat sulit berhasil, karea kondisi tertentu, maka jangan ragu untuk mengganti kepada rencana B, kemudian rencana C, dan seterusnya.

Dalam hal ini teknis perencanaan bisa berubah, namun tujuan tetap sama. Ilmuwan Thomas Edison, sang penemu energi listrik, persisten terhadap tujuannya dalam menemukan energi listrik. Dia sangat fleksibel dalam teknik, usaha dan percobaan yang dilakukan. Bahkan Thomas Edison sudah melakukan 10.000 kali eksperimen dengan metode yang berlainan sebelum pada akhirnya berhasil.

Ketiga, evaluasi diri. Dalam manajemen untuk kehidupan maupun organisasi, evaluasi diperlukan untuk menilai sejauh mana langkah kita terhadap arah dan tujuan yang hendak dicapai. Kesalahan atau kelemahan bisa menjadi catatan kita untuk diperbaiki sehingga tak akan terulang atau minimal dikurangi untuk tetap menuju pada arah visi kita. Sedangkan kelebihan maupun pencapaian poisitf akan menjadi motivasi kita untuk melangkah yang lebih baik.

Sikap persisten juga disebut dalam Al Quran sebagai mujahadah, bersungguh-sungguh. Sikap mujahadah ini yang memberikan kemungkinan berhasil sangat tinggi. (QS Al Ankabut 29:65)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: